Minggu, 25 Maret 2012

Hijaukan Kawasan Bersama Komunitas Depok Berkebun


Suka berkebun? Tetapi belum mengetahui seluk-beluk tentang berkebun, atau tidak memiliki wadah untuk melakukannya? Nah, komunitas yang satu ini punya jawabannya, yakni komunitas Depok Berkebun.
Komunitas Depok Berkebun hadir di kawasan kita berawal dari perbincangan-perbincangan sekelompok warga yang membahas tentang masalah lingkungan di Kota Depok, misalnya penebangan pohon yang menyebabkan pemanasan global. Lantas muncullah ide tentang urban farming sebagai wacana. Di bulan Agustus 2011 Depok Berkebun pun terbentuk.
Wacana urban farming itu direalisasi dengan membuat berbagai kegiatan yang memanfaatkan ruang terbuka hijau. Komunitas ini memiliki konsep fun agar semua orang merasa senang dalam menjalaninya.
Hampir setiap minggu Depok Berkebun kumpul bareng. Acara kumpul ini diisi dengan saling berbagi antara anggotanya tentang perkebunan dari penanaman sampai panen. Sampai saat ini, anggota yang sudah bergabung dengan komunitas ini sekitar 30 orang.
Tujuan kehadiran komunitas warga yang suka berkebun ini sederhana, hanya ingin membuat Depok nyaman. Tidak hanya itu, komunitas ini kerap menyoroti persoalan-persoalan lingkungan dan ingin menginspirasi warga akan kesadaran penghijauan.
“Harapan-harapan dengan adanya komunitas ini adalah makin banyak lahan terbuka hijau yang dimanfaatkan, dikelola oleh masyarakat sehingga benefit-nya bisa dirasakan oleh masyarakat luas. Selain itu, kotanya juga menjadi nyaman serta meminimalisir masalah-masalah yang ada di kota Depok” tutur Eko, koordinator Komunitas Depok Berkebun kepada depoklik.
Bagaimana dengan Anda, siap untuk hijaukan Depok? Bila tertarik, gabung saja di komunitas ini dan mulailah saling berbagi.
Depok Berkebuntwitter: @DpkBerkebun
 Imam Fithroturrahman
sumber: 
http://depoklik.com/2012/03/24/hijaukan-kawasan-bersama-komunitas-depok-berkebun.html

Rabu, 29 Februari 2012

Ruang Ekspresi Publik Direbut


Jakarta, Kompas – Kekerasan individu atau kelompok masyarakat merupakan imbas dari ekspresi kultural yang tersumbat. Bukannya membuka sumbatan ekspresi, sistem negara justru memfasilitasi kekuatan ekonomi untuk merebut ruang-ruang ”milik” publik.
Publik terus disuguhi drama penggusuran lapangan, taman kota, ruang terbuka hijau, dan gelanggang olahraga yang digantikan pusat-pusat perbelanjaan, hotel, atau tempat rekreasi berbayar. Kehilangan publik berdampak besar.
”Ruang publik sangat penting untuk membangun kebersamaan. Sekarang, ruang untuk mewujudkan kebersamaan itu hanya milik kalangan mampu secara finansial,” kata Guru Besar Bidang Ilmu Susastra dan Kajian Budaya Universitas Indonesia Melani Budianta di Jakarta, Senin (27/2).
Di sisi lain, golongan masyarakat tidak mampu atau dengan kemampuan finansial terbatas berkumpul di lahan-lahan sempit yang kosong, gang, atau pinggiran jalan dan perumahan. Sesekali, dibarengi pasar dadakan.
Pada beberapa kasus, keberadaan pasar dadakan yang berisi pedagang kaki lima terus digusur karena menempati lahan pemerintah. Kalaupun masih eksis, rentan penggusuran.
Masyarakat komunal
Masyarakat Indonesia, menurut Melani, pada dasarnya adalah masyarakat komunal yang terbiasa berkumpul dan bersosialisasi. Dulu, kebiasaan itu diakomodasi dengan banyaknya ruang publik yang mudah dan murah diakses, seperti lapangan dan taman kota. Pusat perbelanjaan memang menjadi ruang publik baru, tetapi hanya bisa diakses secara terbatas.
Pada akhirnya, masyarakat di kota-kota besar seperti tak punya pilihan melepas stres selain ke pusat perbelanjaan dan taman rekreasi. Namun, itu sering kali justru menimbulkan beban stres baru bagi masyarakat dengan kemampuan daya beli rendah.
Sementara itu, beban hidup masyarakat kelas bawah yang terus membukit juga menuntut pelampiasan untuk mengendurkan ketegangan. ”Kemampuan setiap individu untuk menoleransi tekanan yang datang itu berbeda-beda,” kata Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Tun Kurniasih Bastaman. Kondisi kian sulit jika banyak individu berkumpul karena ikatan kesamaan tingginya beban hidup.
Secara kejiwaan, beban hidup masyarakat sebenarnya bisa disalurkan agar tak meledak menjadi kekerasan dan merusak. Persoalannya, di tengah laju kota yang tidak mengakomodasi pembangunan jiwa, media penyaluran tekanan hidup tersebut tidak memberi banyak pilihan. Apalagi jika semuanya harus diukur dengan uang.
Dari sisi ekonomi, ekonomi Indonesia tumbuh. Namun, itu hanya dalam bentuk indikator makro. Berdasarkan data Bank Dunia, jumlah populasi kelas menengah Indonesia 56,5 persen dari 237 juta jiwa penduduk Indonesia. Setiap tahun, pertambahan kelas menengah sebanyak 9 juta jiwa.
Di tengah kondisi itu, menurut Melani, mereka yang di luar golongan menengah masih terdiskriminasi. Golongan bawah mencoba melepaskan diri dari segala impitan hidup dengan mencari ruang-ruang kreativitas. Sayangnya, mereka terbentur minimnya fasilitas yang disediakan negara. Akibatnya, kreativitas tak tersalur itu berujung agresivitas, bahkan kekerasan.
Agresivitas juga meningkat karena paparan. Masyarakat miskin menghibur diri lewat televisi. ”Agresivitas kian parah karena banyak siaran kekerasan yang menjadi role model kekerasan selanjutnya,” kata Melani.
Kesehatan jiwa
Di tengah masyarakat yang butuh ruang ekspresi kultural, pemerintah diharapkan fokus pada pembangunan kesehatan jiwa masyarakat. Pembangunan fisik hanya menempatkan kelompok masyarakat kurang mampu pada tekanan hidup yang kian tinggi dan berat.
Faktanya, ruang-ruang terus dibangun yang cenderung menampung dan memuaskan nafsu mengonsumsi tanpa mengindahkan kepentingan kelompok miskin. Pada 2012, rencananya akan dibangun 21 pusat perbelanjaan baru di Indonesia. Sebanyak45 persen di antaranya akan menambah pusat perbelanjaan di Jakarta.
Di Kota Surabaya, Jawa Timur, investor mengincar lahan Kebun Binatang Surabaya untuk dijadikan hotel dan tempat rekreasi khusus. Di Depok, Jawa Barat, sebanyak 26 situ yang menjadi kawasan serapan sekaligus wisata murah meriah beralih fungsi menjadi perumahan, sekolah, dan rumah toko(Kompas, 11/2010).
Kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang terus mengabaikan masyarakat kecil hanya menambah tingkat frustrasi masyarakat bawah menjadi berlipat-lipat. Tanpa penanganan segera, kekerasan brutal untuk melampiaskan rasa frustrasi hanya soal waktu dan momentum.
Jangankan kelompok miskin, masyarakat mampu pun punya keterbatasan mengelola tekanan hidup yang tak kalah berat.
Kondisi itu kian sulit di tengah masyarakat yang dijangkiti sikap acuh tak acuh, lemahnya kepercayaan terhadap sesama, serta merosotnya solidaritas dan empati sosial. ”Situasi sosial tak kondusif membuat emosi kelompok ekonomi bawah berpendidikan rendah cenderung mudah terpancing. Namun, itu bergantung pada kemampuan individu,” kata Kepala Bagian Psikologi Sosial Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Nani Nurrachman.
Apa yang terjadi di sebagian besar kota di Indonesia ini berbanding terbalik dengan sebagian kota besar di dunia. Di sejumlah negara, taman-taman kota dijaga dan dipelihara yang bisa diakses publik secara gratis.
”Di sana, masyarakat melepaskan stres dengan berolahraga, berkumpul dengan keluarga, atau mengobrol dengan kolega,” kata Tun Kurniasih.
Di Indonesia, ungkap Melani, banyak komunitas kelas menengah memilih hotel, mal, atau kafe sebagai tempat berkumpul. ”Di mana tempat berkumpul mereka yang tidak berduit?” katanya. (IND/MZW/FRO)

Minggu, 12 Februari 2012

Panen Kangkung dan Bayam Bersama Depok Berkebun

Bersama Laras (@indriyaLaras), saya berpetualang lagi. Kali ini kami berdua datang ke pertemuan Depok Berkebun (@depokberkebun) di rumah Bapak Eko Nugroho yang merupakan koordinator komunitas ini. Agenda pertemuan kali ini adalah membahas rencana untuk rakernas Indonesia Berkebun di Cibodas tanggal 24-26 Februari 2012 dan panen. Ternyata, di sebelah rumah Pak Eko yang bertempat di Grand Depok City, Griya Melati Mas adalah tanah kosong yang sebagian lahannya sudah Pak Eko alih fungsi sebagai kebun. Ada beberapa tanaman disana seperti kangkung, bayam, kacang panjang dan jagung.
Tunggu sebentar, apakah ada yang panasaran apakah itu komunitas Depok Berkebun?
Sebelum saya cerita lebih jauh mengenai pertemuan Depok Berkebun kali ini, saya akan coba menjelaskan dahulu tentang komunitas ini, ya.. supaya lebih jelas dan menarik :D
Jadi, komunitas Depok Berkebun adalah bagian dari komunitas Indonesia Berkebun yang dipelopori oleh Bapak Ridwan Kamil. Setiap kota memiliki perwakilan komunitasnya seperti Jakarta Berkebun, Bandung Berkebun, Bogor Berkebun, Banten Berkebun, Depok Berkebun dan banyak lagi daerah lainnya. Untuk penjelasan lebih lanjut, silakan buka indonesiaberkebun[dot]org saja, ya.. karena saya takut salah bagi info nih hehehe..
Lanjut ke cerita pertemuan kali ini..
Pertemuan fokus kepada penyampaian data mengenai Indonesia Berkebun dan rencana pengembangan Depok Berkebun. Pak Eko juga bercerita tentang kegemarannya menikmati teh hijau. Banyak cerita dan informasi baru yang kami dapat mengenai teh hijau. Kami juga disuguhi teh hijau asli dari Jepang yang dipesan langsung secara online via internet. Keren banget, ya! Rasa tehnya lucu lho, teh hijau tapi manis *bayangin sendiri ya rasanya hehehe*
Setelah itu, kami menuju lokasi kebun yang letaknya persis di sebelah rumah Pak Eko. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, di kebun tersebut sudah ditanami beberapa tanaman. Saat di kebun pun kami mendapat banyak informasi tentang tanaman, hama, pupuk, kualitas tanah, cara tanam dan juga cara panen yang baik. Dari sekian banyak tanaman, yang siap dipanen adalah kangkung dan bayam.
Dengan semangat, kami mulai memanen kangkung dan bayam tersebut. Jujur,that was a very excited moment! Gila, ga pernah lho saya panen kangkung begini. Cabut-cabutin satu-satu, ga pernah! *lebay*
Kalau kata Laras, waktu di kebun dan panen, dia seperti anak TK yang dilepas untuk main. Rasanya excited dan bebas banget!
Setelah dipanen, kangkung kami cuci satu per satu. Setelah dicuci, kangkung dibagi-bagi. Ternyata, kangkung yang kami panen lumayan banyak. Saya dan Laras, masing-masing membawa dua ikat kangkung. Seneng banget, deh! Siap-siap makan oseng kangkung :p
(Talita Zahrah)
sumber aslinya:

http://talitazahrah.wordpress.com/2012/02/13/panen-kangkung-dan-bayam-bersama-depok-berkebun/

Selasa, 03 Januari 2012

Cantik Berkebun bersama "Salon Mos5" di Depok

#CantikBerkebun  bersama Ibu @IdaAmal akan diadakan di @Mos5Salon Margonda Depok pada tanggal 8 Januari 2012, Jam 9 pagi. Tapi, hanya untuk Wanita (tapi denger-denger info terakhir pria bisa ikutan lho!). Joining fee 25rb (non member 35rb) dpt goodiebag isi bibit tanaman, voucher nyalon dan produk @Moayu_ID. Bagi rekan-rekan yang berminat silahkan hubungi @Mos5Salon @YuliAstuti



Minggu, 20 November 2011

Desain Kaos Depok Berkebun

Sahabat-sahabat @DpkBerkebun, kita ingin membuat kaos komunitas.  Selain buat dipakai saat berkebun, juga buat media memperkenalkan komunitas ke khayalak.  Silahkan pilih desain yang menurutmu OK, kasih komentar ya! untuk contoh kaos akan dibuatkan model desain No.1 dan No.3 untuk di dipakai saat Konferensi Nasional Indonesia Berkebun 26-27 Nopember 2011 di Solo.

Markibun!, mari Berkebun!
@sekonugroho (admin @DpkBerkebun)





Desain #5