Kamis, 12 April 2012

#TanamPerpisahan @JktBerkebun @ Springhill, Kemayoran, Minggu, 15 April 2012


#TanamPerpisahan @JktBerkebun @ Springhill, Kemayoran
Ingin Jakarta yang lebih hijau? Mencari kegiatan baru yang fun bersama keluarga dan teman saat weekend?
Ada lahan kosong yang tidak di manfaatkan?
Be part of our movement!
Jakarta Berkebun adalah anggota jejaring Indonesia Berkebun yang bertujuan untuk menciptakan lahan hijau yang produktif di kawasan perkotaan yang juga memberikan manfaat bagi komunitas sekitar
Mari ajak keluarga dan teman-teman memanen sayuran kangkung!
Minggu | 15 April 2012 | 15.00
di Jl. Benjamin Suaeb Blok D7
Springhill, Kemayoran
*mohon mengenakan pakaian yang ringan, sandal jepit / sepatu boot dan sarung tangan berkebun (jika ada)!
GRATIS!

Lahan di Springhill ini merupakan lahan yang pertama dari 4 lahan Jakarta Berkebun yaitu: Springhill Kemayoran, Bumi Pesanggrahan Mas, Kelapa Gading & Bumi Bintaro Permai.
Lahan-lahan lain juga sudah diterapkan di berbagai kota di Indonesia menggunakan lahan-lahan kosong yang tidak difungsikan

untuk bergabung dan info lengkap di website www.indonesiaberkebun.org
follow us on twitter @JktBerkebun & @IDberkebun
"Like" Facebook Page Indonesia Berkebun di link http://www.facebook.com/IDberkebun

Selasa, 03 April 2012

Pertanian Kota: Ini Aksiku, Mana Aksimu?

doc IndonesiaBekerbun


 "Pertanian Kota", apa pula itu? Berikut kami kutipkan kultwit dari Linimasa Ibu Ida Amal (@ida_amal) tanggal 3 Maret 2012.  Beliau adalah salah satu pegiat @IDberkebun yang gigih melakukan edukasi berkebun baik di komunitas Indonesia Berkebun maupun masyarakat umum. Selamat menyimak kicauannya berikut ini.

  1. #Pertaniankota / Urban Farming menjadi satu topik yang diangkat di #AgrinexExpo | Munculnya kesadaran masyarakat bertani di kota.
  2. #Pertaniankota sebagai solusi pemenuhan kebutuhan pangan keluarga yang terdekat dan termurah.
  3. #Pertaniankota bisa sebagai solusi suplai sayur dan buah untuk masyarakat disekitarnya :)
  4. #Pertaniankota dapat memangkas jalur transportasi sehingga hasil produksinya tetap fresh, sehat dan terjangkau.
  5. Besarnya kebutuhan sayur/buah/bunga untuk daerah perkotaan yang sangat tinggi, memotivasi berkembangnya #pertaniankota
  6. Dari kondisi tersebut maka #pertaniankota akan sangat prospektif untuk dijalankan oleh seluruh masyarakat perkotaan.
  7. Terus bagaimana dengan para petani tradisional di daerah pertanian? Disinilah munculnya Coopetation antara
    #pertaniankota dan petani.
  8. Coopetation antara #petanikota dan petani tradisional dibutuhkan untuk saling mengisi dan meningkatan nilai jual produksi.
  9. System #Pertaniankota mengarah pada system pertanian/berkebun  #organik dengan technology dan manajemen yang tepat.
  10. #Pertaniankota membutuhkan technology dan management yang tepat untuk menghindari hasil produksi dari cemaran lingkungan kota.
  11. #Pertaniankota hasil produksinya diarahkan ke masyarakat kota, hotel dan resto dengan kwalitas prima maka dibutuhkan manajemen yg tepat.
  12. Setiap  #petanikota harus mempunyai keunggulan dan keunikan dari jenis tanaman, kemasan dan nilai tambahnya.
  13. Salah satu keunggulan yang bisa diusung adl  #pertaniankota organik. Mudah, murah, menyehatkan dan menghasilkan
  14. Dikemas sebagai #Agrowisata
     kota, pusat edukasi anak2 sekolah untuk mengenalkan jenis sayur/buah/bunga dan budidayanya.
  15.  #Pertaniankota membantu menghijaukan lingkungan perumahan padat dan menjadi sumber gizi keluarga
  16. Selama ini  #Pertaniankota
    ternyata memberi manfaat lahan tidur yang belum digunakan, sebagai sumber penghasilan dan oksigen.
  17. Jadi teman2 Urban, tidak perlu khawatir mengenai prospek #pertaniankota /#UrbanFarming. Merapat ke @IDberkebun dan ikuti kegiatannya.
  18.  #Pertaniankota merupakan salah satu solusi bangunan hijau. Jika selama ini tak terpikirkan, mulailah dari sekarang memikirkannya.
  19. @IDberkebun merupakan gudang para arsitek yg mengusung #pertaniankota & lingkungan cc kang@ridwankamil @SIGkusumawijaya @aryani_kimi
  20. Untuk segi estetika ruang #pertaniankota / #urbanfarming sangat menarik sekali. Bagaimana dari segi nilai gizi? Sangat sehat dg catatan.
  21. #Pentaniankota, usulan mas @achmad_marendes disingkat #Tankot harus menguasai betul technology untuk treatment tanah, air dan budidaya.
  22. Treatment tanah & air, ditujukan utk menghidari residu yg muncul dari polutan yg ada di udara, air dan tanah #pertaniankota #Tankot
  23. Untuk menggali ilmu #pertaniankota bisa belajar di @akademiberkebun @IDberkebun dikotamu.
  24. Begitu banyak manfaat dari #PertanianKota yg akan memberikan benefit luar biasa untuk diri & keluargamu. Yuuk ngebun bareng @IDberkebun
  25. Yang tak kalah menarik, bersama @IDberkebun mensejajarkan diri bersama para pelaku Agribisnis untuk ketahanan pangan Indonesia.
  26. Yuuk aktifkan kotamu dengan #pertaniankota bersama misi kegiatanmu. Berkebun di lahan, rooftop, verticulture atau garden hang.
  27. Base knowledge @IDberkebun #Ekologi #Ekonomi dan #Edukasi memfokuskan pada #pertaniankota  yang fun/menyenangkan dan menghasilkan.

@Ida_Amal :  Terimakasih buat semua teman yg sudah membantu menyebarkan & mengkampanyekan
#pertaniankota bersama @IDberkebun | Ini aksiku, mana aksimu?

Minggu, 25 Maret 2012

Hijaukan Kawasan Bersama Komunitas Depok Berkebun


Suka berkebun? Tetapi belum mengetahui seluk-beluk tentang berkebun, atau tidak memiliki wadah untuk melakukannya? Nah, komunitas yang satu ini punya jawabannya, yakni komunitas Depok Berkebun.
Komunitas Depok Berkebun hadir di kawasan kita berawal dari perbincangan-perbincangan sekelompok warga yang membahas tentang masalah lingkungan di Kota Depok, misalnya penebangan pohon yang menyebabkan pemanasan global. Lantas muncullah ide tentang urban farming sebagai wacana. Di bulan Agustus 2011 Depok Berkebun pun terbentuk.
Wacana urban farming itu direalisasi dengan membuat berbagai kegiatan yang memanfaatkan ruang terbuka hijau. Komunitas ini memiliki konsep fun agar semua orang merasa senang dalam menjalaninya.
Hampir setiap minggu Depok Berkebun kumpul bareng. Acara kumpul ini diisi dengan saling berbagi antara anggotanya tentang perkebunan dari penanaman sampai panen. Sampai saat ini, anggota yang sudah bergabung dengan komunitas ini sekitar 30 orang.
Tujuan kehadiran komunitas warga yang suka berkebun ini sederhana, hanya ingin membuat Depok nyaman. Tidak hanya itu, komunitas ini kerap menyoroti persoalan-persoalan lingkungan dan ingin menginspirasi warga akan kesadaran penghijauan.
“Harapan-harapan dengan adanya komunitas ini adalah makin banyak lahan terbuka hijau yang dimanfaatkan, dikelola oleh masyarakat sehingga benefit-nya bisa dirasakan oleh masyarakat luas. Selain itu, kotanya juga menjadi nyaman serta meminimalisir masalah-masalah yang ada di kota Depok” tutur Eko, koordinator Komunitas Depok Berkebun kepada depoklik.
Bagaimana dengan Anda, siap untuk hijaukan Depok? Bila tertarik, gabung saja di komunitas ini dan mulailah saling berbagi.
Depok Berkebuntwitter: @DpkBerkebun
 Imam Fithroturrahman
sumber: 
http://depoklik.com/2012/03/24/hijaukan-kawasan-bersama-komunitas-depok-berkebun.html

Rabu, 29 Februari 2012

Ruang Ekspresi Publik Direbut


Jakarta, Kompas – Kekerasan individu atau kelompok masyarakat merupakan imbas dari ekspresi kultural yang tersumbat. Bukannya membuka sumbatan ekspresi, sistem negara justru memfasilitasi kekuatan ekonomi untuk merebut ruang-ruang ”milik” publik.
Publik terus disuguhi drama penggusuran lapangan, taman kota, ruang terbuka hijau, dan gelanggang olahraga yang digantikan pusat-pusat perbelanjaan, hotel, atau tempat rekreasi berbayar. Kehilangan publik berdampak besar.
”Ruang publik sangat penting untuk membangun kebersamaan. Sekarang, ruang untuk mewujudkan kebersamaan itu hanya milik kalangan mampu secara finansial,” kata Guru Besar Bidang Ilmu Susastra dan Kajian Budaya Universitas Indonesia Melani Budianta di Jakarta, Senin (27/2).
Di sisi lain, golongan masyarakat tidak mampu atau dengan kemampuan finansial terbatas berkumpul di lahan-lahan sempit yang kosong, gang, atau pinggiran jalan dan perumahan. Sesekali, dibarengi pasar dadakan.
Pada beberapa kasus, keberadaan pasar dadakan yang berisi pedagang kaki lima terus digusur karena menempati lahan pemerintah. Kalaupun masih eksis, rentan penggusuran.
Masyarakat komunal
Masyarakat Indonesia, menurut Melani, pada dasarnya adalah masyarakat komunal yang terbiasa berkumpul dan bersosialisasi. Dulu, kebiasaan itu diakomodasi dengan banyaknya ruang publik yang mudah dan murah diakses, seperti lapangan dan taman kota. Pusat perbelanjaan memang menjadi ruang publik baru, tetapi hanya bisa diakses secara terbatas.
Pada akhirnya, masyarakat di kota-kota besar seperti tak punya pilihan melepas stres selain ke pusat perbelanjaan dan taman rekreasi. Namun, itu sering kali justru menimbulkan beban stres baru bagi masyarakat dengan kemampuan daya beli rendah.
Sementara itu, beban hidup masyarakat kelas bawah yang terus membukit juga menuntut pelampiasan untuk mengendurkan ketegangan. ”Kemampuan setiap individu untuk menoleransi tekanan yang datang itu berbeda-beda,” kata Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Tun Kurniasih Bastaman. Kondisi kian sulit jika banyak individu berkumpul karena ikatan kesamaan tingginya beban hidup.
Secara kejiwaan, beban hidup masyarakat sebenarnya bisa disalurkan agar tak meledak menjadi kekerasan dan merusak. Persoalannya, di tengah laju kota yang tidak mengakomodasi pembangunan jiwa, media penyaluran tekanan hidup tersebut tidak memberi banyak pilihan. Apalagi jika semuanya harus diukur dengan uang.
Dari sisi ekonomi, ekonomi Indonesia tumbuh. Namun, itu hanya dalam bentuk indikator makro. Berdasarkan data Bank Dunia, jumlah populasi kelas menengah Indonesia 56,5 persen dari 237 juta jiwa penduduk Indonesia. Setiap tahun, pertambahan kelas menengah sebanyak 9 juta jiwa.
Di tengah kondisi itu, menurut Melani, mereka yang di luar golongan menengah masih terdiskriminasi. Golongan bawah mencoba melepaskan diri dari segala impitan hidup dengan mencari ruang-ruang kreativitas. Sayangnya, mereka terbentur minimnya fasilitas yang disediakan negara. Akibatnya, kreativitas tak tersalur itu berujung agresivitas, bahkan kekerasan.
Agresivitas juga meningkat karena paparan. Masyarakat miskin menghibur diri lewat televisi. ”Agresivitas kian parah karena banyak siaran kekerasan yang menjadi role model kekerasan selanjutnya,” kata Melani.
Kesehatan jiwa
Di tengah masyarakat yang butuh ruang ekspresi kultural, pemerintah diharapkan fokus pada pembangunan kesehatan jiwa masyarakat. Pembangunan fisik hanya menempatkan kelompok masyarakat kurang mampu pada tekanan hidup yang kian tinggi dan berat.
Faktanya, ruang-ruang terus dibangun yang cenderung menampung dan memuaskan nafsu mengonsumsi tanpa mengindahkan kepentingan kelompok miskin. Pada 2012, rencananya akan dibangun 21 pusat perbelanjaan baru di Indonesia. Sebanyak45 persen di antaranya akan menambah pusat perbelanjaan di Jakarta.
Di Kota Surabaya, Jawa Timur, investor mengincar lahan Kebun Binatang Surabaya untuk dijadikan hotel dan tempat rekreasi khusus. Di Depok, Jawa Barat, sebanyak 26 situ yang menjadi kawasan serapan sekaligus wisata murah meriah beralih fungsi menjadi perumahan, sekolah, dan rumah toko(Kompas, 11/2010).
Kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang terus mengabaikan masyarakat kecil hanya menambah tingkat frustrasi masyarakat bawah menjadi berlipat-lipat. Tanpa penanganan segera, kekerasan brutal untuk melampiaskan rasa frustrasi hanya soal waktu dan momentum.
Jangankan kelompok miskin, masyarakat mampu pun punya keterbatasan mengelola tekanan hidup yang tak kalah berat.
Kondisi itu kian sulit di tengah masyarakat yang dijangkiti sikap acuh tak acuh, lemahnya kepercayaan terhadap sesama, serta merosotnya solidaritas dan empati sosial. ”Situasi sosial tak kondusif membuat emosi kelompok ekonomi bawah berpendidikan rendah cenderung mudah terpancing. Namun, itu bergantung pada kemampuan individu,” kata Kepala Bagian Psikologi Sosial Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Nani Nurrachman.
Apa yang terjadi di sebagian besar kota di Indonesia ini berbanding terbalik dengan sebagian kota besar di dunia. Di sejumlah negara, taman-taman kota dijaga dan dipelihara yang bisa diakses publik secara gratis.
”Di sana, masyarakat melepaskan stres dengan berolahraga, berkumpul dengan keluarga, atau mengobrol dengan kolega,” kata Tun Kurniasih.
Di Indonesia, ungkap Melani, banyak komunitas kelas menengah memilih hotel, mal, atau kafe sebagai tempat berkumpul. ”Di mana tempat berkumpul mereka yang tidak berduit?” katanya. (IND/MZW/FRO)

Minggu, 12 Februari 2012

Panen Kangkung dan Bayam Bersama Depok Berkebun

Bersama Laras (@indriyaLaras), saya berpetualang lagi. Kali ini kami berdua datang ke pertemuan Depok Berkebun (@depokberkebun) di rumah Bapak Eko Nugroho yang merupakan koordinator komunitas ini. Agenda pertemuan kali ini adalah membahas rencana untuk rakernas Indonesia Berkebun di Cibodas tanggal 24-26 Februari 2012 dan panen. Ternyata, di sebelah rumah Pak Eko yang bertempat di Grand Depok City, Griya Melati Mas adalah tanah kosong yang sebagian lahannya sudah Pak Eko alih fungsi sebagai kebun. Ada beberapa tanaman disana seperti kangkung, bayam, kacang panjang dan jagung.
Tunggu sebentar, apakah ada yang panasaran apakah itu komunitas Depok Berkebun?
Sebelum saya cerita lebih jauh mengenai pertemuan Depok Berkebun kali ini, saya akan coba menjelaskan dahulu tentang komunitas ini, ya.. supaya lebih jelas dan menarik :D
Jadi, komunitas Depok Berkebun adalah bagian dari komunitas Indonesia Berkebun yang dipelopori oleh Bapak Ridwan Kamil. Setiap kota memiliki perwakilan komunitasnya seperti Jakarta Berkebun, Bandung Berkebun, Bogor Berkebun, Banten Berkebun, Depok Berkebun dan banyak lagi daerah lainnya. Untuk penjelasan lebih lanjut, silakan buka indonesiaberkebun[dot]org saja, ya.. karena saya takut salah bagi info nih hehehe..
Lanjut ke cerita pertemuan kali ini..
Pertemuan fokus kepada penyampaian data mengenai Indonesia Berkebun dan rencana pengembangan Depok Berkebun. Pak Eko juga bercerita tentang kegemarannya menikmati teh hijau. Banyak cerita dan informasi baru yang kami dapat mengenai teh hijau. Kami juga disuguhi teh hijau asli dari Jepang yang dipesan langsung secara online via internet. Keren banget, ya! Rasa tehnya lucu lho, teh hijau tapi manis *bayangin sendiri ya rasanya hehehe*
Setelah itu, kami menuju lokasi kebun yang letaknya persis di sebelah rumah Pak Eko. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, di kebun tersebut sudah ditanami beberapa tanaman. Saat di kebun pun kami mendapat banyak informasi tentang tanaman, hama, pupuk, kualitas tanah, cara tanam dan juga cara panen yang baik. Dari sekian banyak tanaman, yang siap dipanen adalah kangkung dan bayam.
Dengan semangat, kami mulai memanen kangkung dan bayam tersebut. Jujur,that was a very excited moment! Gila, ga pernah lho saya panen kangkung begini. Cabut-cabutin satu-satu, ga pernah! *lebay*
Kalau kata Laras, waktu di kebun dan panen, dia seperti anak TK yang dilepas untuk main. Rasanya excited dan bebas banget!
Setelah dipanen, kangkung kami cuci satu per satu. Setelah dicuci, kangkung dibagi-bagi. Ternyata, kangkung yang kami panen lumayan banyak. Saya dan Laras, masing-masing membawa dua ikat kangkung. Seneng banget, deh! Siap-siap makan oseng kangkung :p
(Talita Zahrah)
sumber aslinya:

http://talitazahrah.wordpress.com/2012/02/13/panen-kangkung-dan-bayam-bersama-depok-berkebun/